Sabtu, 20 Juni 2015

Sinopsis

Seperti yang kamu tahu, aku ini buku yang selalu terbuka. Jujur dari kata perkata. Meski kadang kau enggan membacanya, aku tetaplah aku. Si buku yang selalu terbuka.

Mudah untuk menebakku, tidak sulit menyimpulkan rasa kehilanganku--atau bagaimana usahaku membuat semuanya seperti dulu lagi. Alurku, kau tentu tahu : akhirnya Sang Pangeran datang kembali– mereka berdua hidup bahagia, selamanya.

Tapi kamu tetap mengunci pintu. Tak mau keluar, pun menengok buku yang terbuka di atas meja beranda rumahmu.

Saat ini akhirnya datang, dimana aku memutuskan untuk menutup semuanya. Maka berakhirlah. Kau tidak lagi berhak menyentuhnya, melihatpun tidak. Karena kau tahu? Aku sudah cukup lama bertahan menjadi kata-kata yang takpernah kaumengerti maknanya.

Kututup. Cerita. Kita.
Eh. Ceritaku. Maksudnya.

Tentang seorang pejuang, yang tak tahu diri. Tak tahu tentang dirinya sendiri. Siapa musuhnya? Apa yang dia perjuangkan? Siapa yang dia bela dengan kesungguhan?

Kini tamatlah.
Sudah.

Rabu, 20 Mei 2015

Diam Saja



Kita adalah sepasang misteri. Dua buah tanda tanya yang saling melempar mengapa, tapi tak memiliki karena untuk dibagi.

Kita adalah sepasang prasangka. Yang menduga-duga apa yang terjadi sebenarnya, tanpa mau saling terbuka.

Kita adalah sepasang rambu. Namun entahlah…. kapan merah, kuning, dan hijau itu akan mulai berlaku.

Kita adalah kita. Yang berdua tenggelam dalam pertanyaan, perkiraan, dan sinyal-sinyal yang sengaja kita buat tanpa berani mengambil peran untuk menjawab, menjelaskan, dan menegaskan.

Karena kita terlalu takut, bahwa masing-masing dari kita akan kehilangan satu sama lain sepenuhnya, ketika mulai membuka mulut.

Senin, 19 Januari 2015

Air



Katamu tempo hari, rindu agaknya seperti embun
Yang sesaat, lalu hilang,
Tetapi ia selalu datang kembali esok pagi

Bagiku, bukankah rindu seperti awan
Yang tenang, padahal ia menggebu ingin jatuh menjadi hujan
Hanya untuk menyentuh bumi

Lalu kami berdebat

Ah sudahlah
Barangkali rindu itu adalah air
Toh awan dan embun, embun dan awan, keduanya juga berasal dari air.

Mungkin iya.
Jika tidak, mengapa bisa ia selalu mengalir memenuhi ruang?
Lewat celah-celah kecil, rindu takkan tahan bila tidak menyelinap
Seakan mencari kapilaritasnya lalu menekan ke segala arah mencari jalannya
Agar ia dapat mengalir dengan tenang dan bermuara pada pelukan samudera,
Atau malah menguap akibat menunggu terlalu lama?
Menyerah pada terik penantian

Ya,
Rindu berasal dari air

Air mata

Minggu, 11 Januari 2015

Untuk Penikmat Langit Malam

Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghubungimu. Menanyakan kekhawatiranku. Dan aku dibuat kelelahan sama halnya sepertimu. Setiap yang bergerak pasti akan lelah, bukan? Tenang, setelah ini kamu dapat duduk selonjor tanpa kuminta ini-itu. Kamu dapat tidur pulas tanpa harus kubangunkan karena aku ingin ini dan itu. 

Sejak tadi, sejak kemarin, sejak kita saling mengait tapi tak terkait, sejak itu aku selalu merasa harus di dekatmu. Aku tidak pernah menghitung pertemuan, karena bukan itu barometer yang tepat mengukur keterkaitan. Yang selalu kuhitung adalah momen, saat aku mendoakanmu, saat aku mengusahakanmu, dan saat kamu hadir malu-malu dalam kisahku--ada atau tidak ada fisikmu.

Namun sejauh ini aku salah, aku terlalu egois meminta kita saling berkaitan. Padahal mungkin kamu sedang ingin berlarian di lapangan luas atau mendaki gunung demi gunung bahkan kamu ingin mengarungi setidaknya satu samudera yang ada dalam semesta. Aku minta maaf. Atas segala egoisme yang ada. Atas segala sesuatu yang mengekangmu. Atas kesalahan yang selalu bisa kau jatuhkan padaku. Menuntutmu ini dan itu.

Aku akan pergi, sama seperti kamu yang membebaskan diri. Aku tidak akan menjadikanmu anak kecil yang kemana-mana selalu harus dalam pengawasan. Aku akan pergi. Membawa kaitanku jauh-jauh dari situ. Dari sisimu.

Temukanlah dia yang bisa dengan baik memahamimu, yang berbeda jauh dariku--dariku, yang mungkin mencintaimu lebih dari dia yang kau temukan kelak. Cinta tidak akan salah terjatuh, tapi setiap orang bisa keliru menangkapnya.

 Semoga kita bisa bertemu lagi. Entah saat kait-kait ini  tepat, atau hanya saling bersinggungan di persimpangan jalan.

Minggu, 04 Januari 2015

Telaga Air Mata



Di sebuah hutan, dibalik pinus-pinus dan bukit semak, ada sebuah telaga jernih. Telaga itu berwarna hijau muda, dikelilingi bunga-bunga putih dan rerumputan hijau yang segar. Tak jarang ada kuda liar dengan anggunnya bermain di tepian. Konon meneguk airnya dapat membuat siapapun memiliki harapan-harapan baru.

Penduduk di sekitar percaya, bahwa telaga itu dahulu menyimpan satu cerita, sesuai namanya Telaga Air Mata. Entah kapan kisah itu mulai dipercaya penduduk desa. Tapi setiap senja di hari kesebelas setiap bulannya telaga ini seperti menangis. Serangga-serangga bernyanyi dengan bahasa mereka. Pepohonan dan semak bergesekan. Kunang-kunang selalu terbang menyebrangi telaga dari ujung ke ujung kemudian menghilang. Begitu seterusnya hingga tengah malam dan hari berganti. Telaga itu menangis. 

Tangisan seorang puteri. 

Pada zamannya, ada seorang puteri raja, yang kecantikannya masih kalah dibanding kakak-kakak dan adiknya. Tapi dia memiliki hati yang lembut dan dicintai semua orang. Rakyat istana memanggilnya Puteri Bulan. Karena setiap bulan nyaris purnama, Puteri Bulan membuka pintu besar kerajaan dan memersilakan rakyatnya untuk masuk memenuhi alun-alun bundar istana. Untuk merayakan persaudaraan dan suka cita. Sebuah perayaan sederhana untuk seluruh rakyat kerajaan.

Akan ada nyanyian dan tarian persembahan dari masing-masing pemukiman. Biasanya pemukiman pangan membawa gabah-gabah dan beberapa kantung beras lalu mereka memainkan musik lesung. Beberapa diantaranya membagi buah-buah segar yang sengaja disisihkan. Pemukiman seniman—tentu saja, mereka melatih yang lain untuk menari bersama. Pemukiman tambang, papan, dan kehutanan, mereka duduk diam menikmati, melepas lelah setelah sekian hari bekerja keras. Pemukiman sandang sukarela mendekor dan menjahit kostum-kostum. Di akhir acara, ketujuh puteri kerajaan termasuk Puteri Bulan akan memainkan musik khas kerajaan.

Satu saat, ada tamu kerajaan dari negeri seberang yang mampir di Negeri Singgah, kerajaan asal Puteri Bulan, tepat di hari kesebelas. Puteri Bulan sempat meminta ayahanda untuk memulangkan tamu kerajaan lebih awal karena kereta kuda mereka memakan tempat untuk menari. Tapi ayahanda raja menolak karena raja negeri seberang harus tinggal hingga esok hari. Jalan tengahnya, tamu negeri seberang akan ikut dalam perayaan dan kereta kuda mereka dijadikan tempat sementara untuk meletakkan buah-buah hasil panen pemukiman pangan. Tempat yang awalnya digunakan untuk meletakkan buah-buah itu, yang digunakan untuk menari.
Acara tetap berlangsung seperti biasa. Yang berbeda adalah saat penampilan dari tamu negeri seberang. Ada seorang pangeran menawarkan diri dengan sopan memainkan musik untuk penduduk kerajaan. Seseorang dengan penampilan sederhana tetapi tetap menawan. Mengenakan pakaian kebangsaan negeri seberang yang memerlihatkan kegagahannya.

Siapa yang sanggup menolak? Seluruh rakyat mengiyakan, pun Puteri Bulan. Pangeran negeri seberang memainkan sebuah alat musik yang tidak pernah dilihat penduduk Negeri Singgah. Guitre. Begitu nama alat itu kata pangeran. Puteri Bulan jatuh cinta pada permainan alat itu dan meminta pangeran untuk memainkannya sekali lagi. Seluruh rakyat bersorak menyetujui. Lalu dari ujung alun-alun seseorang menyeru, “Puteri Bulan, mainkanlah musikmu bersama pangeran!”. Ide bagus itu diamini sekian ratus penduduk. Semua bersorak Puteri Bulan harus memainkannya bersama pangeran.

Mereka berdua bermain. Membuat harmoni yang tidak pernah didengar sebelumnya. Sungguh indah. Semua tertegun, dan terenyuh. Yang tadinya bicara sendiri, menghentikan bicaranya. Yang sedari tadi hanya diam dan melamun mulai menemukan fokus baru. Sebuah lantunan musik yang luar biasa. Seakan gubuk-gubuk warga ikut menari, tumpukan buah dan makanan turut bersenandung. Seisi kerajaan menikmati musik itu. Semua bergembira hari ini. Termasuk ibunda ratu yang sakit belakangan. Pangeran juga menutup malam itu dengan nyanyian untuk kesembuhan ibunda ratu. Puteri Bulan menangis haru. Kakinya lemas. Ada gemuruh di dadanya. Ia tidak pernah begini sebelumnya. Dan gemuruh itu semakin hebat saat pangeran menarik ujung bibirnya, tersenyum tulus di sela-sela waktu, untuk Puteri Bulan. Penyakit apa ini?

Esoknya, Puteri Bulan mengunjungi tabib kerajaan dan menceritakan penyakitnya. Tabib kerajaan tertawa keras sekali, saat Puteri Bulan mengutarakan keluhannya.

“Duh Gusti, yang mulia Puteri Bulan! Sebelum pangeran pulang hendaknya yang mulia Puteri bertemu dengannya walau hanya sesaat. Itu akan mengobati penyakit tuan puteri.” Kemudian tabib istana melanjutkan tawanya. Puteri Bulan yang tidak tahu penyakit itu namanya jatuh cinta, kebingungan dan berencana mengikuti saja apa kata tabib. Pasrah. Karena dia juga lelah, sudah tidak bisa tidur dua malam.

Kerajaan tamu dari negeri seberang harus pergi setelah menetap selama empat hari di kerajaan. Namun Puteri Bulan hingga hari ini belum bertemu dengan Pangeran Guitre itu. Puteri Bulan menyerah mencari Pangeran dan memutuskan untuk melangkah menuju hutan kerajaan, memandikan kuda dan melepaskannya sebentar untuk bermain-main. Berharap menyibukkan diri dapat menghilangkan keinginannya bertemu.
Sampailah Puteri di suatu padang luas belakang istana. Puteri Bulan membiarkan kudanya makan.

"Puteri Bulan?" Puteri Bulan yang tidak tahu ada yang mengikuti, sontak balik badan dan mengambil pisau kecil dari balik saku. Kemudian ia tertawa kecil.
Ternyata, pucuk dicinta ulampun tiba.
“Maafkan dalem pangeran. Dalem kira, siapa gerangan yang tiba-tiba datang.” Ujar Puteri Bulan saat tahu ternyata itu adalah Pangeran Guitre. 

Penyakit itu menyerang lagi. Ujung tangannya mulai dingin. Kakinya lemas. Ada sesuatu di perutnya. Ya Tuhan, tabib istana salah. Ini bukan obat. Penyakitnya bahkan semakin parah.
Kenapa justru datang di saat seperti ini? Pikir Puteri Bulan.

"Tidak Puteri Bulan. Saya yang harusnya meminta maaf karena mengikuti tanpa permisi."
“Apa yang sekiranya bisa dalem bantu, Pangeran?”
“Bolehkah sebelum saya pergi, Puteri Bulan berkenan menemani saya berkeliling hutan istana? Kata warga pemukiman papan, ada bukit kecil yang indah di hutan kerajaan. Tempat kupu-kupu dan bunga bermain warna dan saling berlomba menawan hati siapapun yang melihatnya.” Tanya pangeran.

Aih, jangan katakan kepada siapapun, jangan. Termasuk paduka. Bahwa Puteri Bulan senang bukan kepalang. Jadi pangeran memintanya pergi bersama? Tentu boleh!

Angin seolah tiba-tiba membelai lembut rambut-rambutnya. Menerbangkannya ke….. entahlah ini perasaan apa. Susah untuk dideskripsikan. Hatinya bak bunga yang baru saja mekar. Merah muda sempurna.

"Bukit Tawanan."
“Jadi namanya Bukit Tawanan?”
“Iya pangeran.”

Lalu ada hening yang tiba-tiba mampir. Puteri Bulan sengaja mengambil jeda mengatur nafas, karena debar-debar dalam dada itu seakan mendobrak memaksa keluar.

“Mmm…Kalau Puteri Bulan masih harus merawat kuda, izinkan saya meminta petunjuk arah saja dari yang mulia puteri untuk menuntun saya menuju bukit itu.”
“Jangan pangeran! Dalem bersedia menemani!” Sahut Puteri Bulan tiba-tiba, mengagetkan Pangeran Guitre itu.

Pangeran Guitre tertawa kecil. Dan tentu saja, Puteri Bulan menunduk menahan sipu yang merubah wajahnya bak strawberry dari pemukiman pangan.
Mereka berdua menghabiskan waktu hingga senja. Bercerita tentang apapun. Kekesalannya pada baginda raja, keinginannya pergi tanpa pengawal, hingga Pangeran Guitre yang ternyata sama-sama pecinta buku dan es krim seperti halnya Puteri Bulan. Waktu cepat sekali berlalu, bagaikan anak panah yang dilesatkan.

 Pangeran harus pergi.

"Tunggu aku datang tiga puluh dua bulan lagi Puteri. Aku akan datang tepat di saat perayaan tiga malam lalu. Aku akan datang memainkan guitre dan kubawakan buku-buku sajak dari negeriku."
“Kenapa lama sekali pangeran?”
“Karena seorang pangeran diperbolehkan pergi sendirian berkelana di umurnya yang ke dua puluh empat. Itu tiga puluh dua bulan lagi. Dan saat itu yang kutuju pertama adalah bukit indah ini sebelum akhirnya aku memainkan guitre di perayaan.”
“Baiklah dalem dengan sabar akan menunggu pangeran.” Ujar Puteri Bulan lirih. Kemudian ia terseyum. Pangeran tersenyum. Seisi bukit tersenyum.

Minggu, 28 Desember 2014

Lari

Tuhan, maafkan hari ini aku memaki keadaan. Hujan taklagi menenangkan bagiku, bahkan mengantarku pada cemas, sedang masalahku adalah gerbangnya. Pada akhirnya aku hanyalah aku yang tanpaMu bak debu yang hilang dalam sekali tiupan. Aku tak bisa berkata-kata, tak mampu mendengar kejujuran, tak sanggup melihat kenyataan.

Jika danau hijau itu adalah aku, maka saat ini dasarnyalah yang tampak di permukaan. Kerontang, dan tak ada lagi yang menggenang, sudah tak ada air mata yang bermuara. Dikuras habis oleh masa, hingga aku lesu, lelah menggugu.

Aku tak lagi berkawan dengan tawa lepas di sore hari saat minum teh ataupun dengan kehangatan di sela selimut saat musim dingin bergelayut manja di atap rumah dan turun di pangkuan, aku sendirian. Lalu dengan takut-takut aku bersembunyi di balik kotak kayu, kesedihan dan kehilangan itu berebut ingin memelukku. Dan parahnya, saat ini kalut melamarku menjadi pasangan hidup. Aku menolak, kini kabur dari resepsi.

Lalu aku berlari menuju gelap malam berharap bisa menghilang dibalik kabut. Tapi malam terlalu terang karena lampu jalan. Kemudian kuputuskan untuk berlari hingga pagi, berharap aku bisa melebur bersama kokok ayam. Tapi awan mendung menyamarkan matahari, dan bunda lupa memukul lesung padi saat subuh tiba. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan lari dari semua masalah ini ya, Tuhan?

Jumat, 26 Desember 2014

Hampa

Teruntuk yang malamnya rapuh, semoga tak lagi.
               Matahari tidak malu-malu hari ini, bulat sempurna ditemani awan-awan dan langit biru. Tapi ini Batu, seterik apapun, suhu tetap terjaga membuatmu tidak perlu kipas atau tisu untuk menyeka keringat. Orang-orang dengan gesitnya berlalu-lalang, menikmati indahnya alun-alun dengan kerabat maupun keluarga. Namun di tengah riuh redam, ada yang duduk diam di kursi taman.
               Ada yang bilang saat merasa sepi dalam keramaian, berarti jiwa sedang tidak hadir bersama raga. Lalu dimana jiwaku? Pertanyaan itulah yang tak bisa dijawab Rais—yang duduk diam di kursi taman.
                “Ras!” dari arah jam sebelas, seorang gadis berkerudung ungu dengan corak floral datang dengan kedua tangan yang penuh dua cup es puter. Rais hanya mengerjap. Kemudian seperti dua detik sebelumnya, dia mengarahkan pandangan ke titik semula. Tanpa fokus.
                “Kamu kenapa sih?” Gadis itu kembali memecah hening yang diciptakan Rais, tidak ada hening di tempat seperti ini, yang benar saja? Ini alun-alun.
                “Kok nggak sama yang lain? Bukannya kamu selalu suka bianglala? Itu mereka sudah antri beli tiket.” Yang diajak bicara tetap diam, tapi gadis itu tidak mau menyerah.
                “Sakit?” Tanyanya lagi.
                “Kalau saja aku tidak phobia ketinggian, aku sudah naik bersama mereka daripada aku bicara dengan tembok seperti ini. Iya, hei tembok! Mau es puter? Ini aku bawakan satu buat kamu. Tidak pakai roti seperti biasa. Oh iya, sama-sama.” Gadis itu mulai kesal, tapi dimakan saja es puter itu. Sedangkan bagian Rais ia letakkan persis di sebelah tangan kanan ‘temboknya’ itu.
                Rais tetap membisu bak lampu jalan, bahkan lampu jalan lebih ramai--masih ada dengung laron di bawah temaram lampunya.
                “Ras, es puter baik dikonsumsi untuk orang-orang yang sedang hampa.”
                Bagaimana dia tahu? Apakah aku memang tampak seperti itu? Eh, soal es puter itu, apa benar?
                “Bagaimana kamu bisa tahu aku sedang merasa seperti itu?”
                “Kita tidak baru kemarin berkenalan Ras. Pikiranmu tidak disini, tapi dimana ya?” Gadis itu mendongkak ke atas seperti mencari sesuatu, lalu menoleh ke samping kanan dan kiri, diintipnya juga kolong kursi taman yang diduduki, “Tidak ada, pikiranmu benar-benar tidak ada disini.”
                Rais tertawa. Kali ini ia merasa tersindir.
                “Aku berhasil! Akhirnya, ujung bibir itu tertarik juga.” Sahut gadis itu sembari mengepalkan tangan ke atas.
                “Memangnya benar, es puter ini bisa mengobati perasaan kosong, Bil?” Rais mulai buka suara pada gadis berkerudung ungu yang ia panggil Bilqis.
                “Iya bisa. Mau tahu caranya? Begini....bismillah, bismillah, bismillah.” Bilqis memeragakan menyuap setiap sendok es puter sembari mengucap basmallah,
                “Sepertinya jika kamu selalu melibatkan Tuhan dalam kegiatan apapun kamu tidak akan merasa hampa.” Lanjutnya.
                Jleb. Ketika selalu melibatkan Tuhan, iya benar itu.
Rais tersenyum, lagi.