Selasa, 02 Juli 2013

Obrolan tentang Berkerudung

Siang itu cerah, aku duduk di sebuah gazebo, dibawah pohon rindang. Setting tempat, waktu, dan suasana pas untuk syuting FTV :)

Aku sibuk dengan ponselku, mengutak-atik foto untuk kuedit abal-abal via photostudio. Gadget ini temanku membunuh waktu. Tanpa aku sangka, tiba-tiba datang temanku  yang cantik, cantik sekali. Rambut tergerai hitam, rambut mahal. Kulitnya juga putih, mulus dibiarkan terbakar sinar matahari dengan polo hijau toscanya yang pendek. Sambil membawa Ipad dia duduk disebelahku. Aku seperti kerupuk yang dibiarkan dalam toples terbuka. Ciut, melempem, aku tampak begitu hitam, lusuh, dan ah tidak cantik. Aku terlihat jelek disandingkan dengan dia.

"Hey Bunga! (bukan nama sebenarnya)" Aku menyapanya, sambil mencoba menyembunyikan perasaan ciutku.
"Halo. Kok sendiri?" Tanya Bunga basa-basi. Aku hanya tertawa, masih mencoba mengendalikan perasaan melempem.

"Eh, aku mau tannya deh." Kata Bunga memecah sunyi yang sempat hadir beberapa menit.
"Tanya apa?"
"Muslim yang perempuan itu diwajibkan nggak sih pakai kerudung?" Aku kaget dengan pertanyaannya. Rupanya raut kagetku terbaca.
"..Maaf lho ya, bukan maksud menyinggung agamamu. Aku hanya penasaran." Lanjutnya kemudian. Aku tidak tahu raut mukaku sudah berubah atau belum yang jelas aku mencoba menjawab pertanyaannya seramah mungkin. Aku tidak tersinggung, hanya kaget saja.

"Iya Nga, ada di kitabku. Disebutkan di Al-Quran kalau memakai kerudung itu hukumnya wajib."
"Itu level wajibnya setara sama ibadah yang lain seperti sholat dan puasa gitu nggak?" tanyanya kepo.
"Setara dong, namanya juga wajib. Sama kan diagamamu juga ada yang harus dilakukan, kalau enggak dosa. Begitu kan?"
"Iya. Mmm..." Bunga tampak berfikir.
"Kenapa Nga? Aku kaget kamu tiba-tiba tanya seperti itu. hehehe" Aku mencoba mencairkan suasana, tapi tetap saja bawaannya masih ada "beku" kalau membahas soal agama.
"Cuma bingung dengan dinamika perkerudungan."
"Eh? bingung gimana?" Tanyaku. Aku lebih bingung.
"Ya bingung aja, kok banyak yang belum pakai kerudung juga, padahal itu kan wajib. Terus pakai kerudung esensinya apa pik? Maksudku hikmah dibalik perintah disuruh memakai kerudung." Dia semakn kepo, dan aku semakin bersemangat menjelaskan.
"Jadi begini, di Islam kita melindungi perempuan. Kan kita juga mengenal nih adanya nafsu. Berkerudung itu salah satu cara menetralisir nafsu. Baik buat yang melihat maupun buat pemakainya." Aku menghentikan sebentar penjelasanku, Bunga tidak menyela, dia masih ingin mendengar lebih.
"Nah, berkerudung itu esensinya menjaga diri, supaya lekuk tubuhnya perempuan itu nggak kelihatan. Supaya lebih terjaga dari pandangan atau keinginan yang 'nakal'. Terus nih, berkerudung itu juga ditujukan sebagai identitas, sebagai seorang muslimah. Dengan identitas muslimah itu harapannya kita semakin bisa memperbaiki diri terus dan terus. Dengan berkerudung kita juga bisa menjaga akhlak. Jadi menurutku anggapan yang penting akhlaknya dulu dikerudungi baru rambutnya itu menurutku kurang tepat. Karena dengan berkerudung kita bisa merubah akhlak kita sepantasnya orang berkerudung. Panjang sih alasannya Nga kalau dijelasin rinci. hehehe"
"Yayaya, aku bisa nangkep dikit-dikit. Terus nih pik, kan tadi dibilang supaya nutup lekuk tubuh, tapi kok yang kerudungan sekarang banyak yang pakai ketat-ketat gitu? Terus dimodel yang nggak karuan, malah kadang rambutnya kelihatan lho."
"Hehe, ya ibaratnya kalau belajar jalan nih ya, merangkak dulu pelan-pelan. Nanti dibantu dipapah, digandeng buat jalan pelan-pelan pakai kaki sendiri. Habis itu bisa jalan sendiri deh. Jadi, kaya ibadah yang lain, berkerudung kan butuh tahapan. Barangkali yang masih seperti itu masih harus dituntun untuk yang lebih baik lagi. Poin pentingnya, setidaknya mereka sudah belajar jalan kan?" Kataku sok bermain analogi.

"Kadang aku berpikir kerudung itu sudah tidak sakral lagi." Jleb. Sebagai seorang muslim, aku tertohok. Tidak sakral?
"Maksudnya?" Giliranku bertanya kali ini.,
"Ya, jadinya itu malah kaya bukan perintah lagi, penerapan perempuan-perempuan yang berkerudung sekarang jauh dari esensi perintah berkerudung. Jadi kaya pake kerudung itu asal-asalan, gaya-gayaan gitu." Jelas Bunga. Aku hanya tertawa. Masih bingung mau jawab apa.
"Yang jelas, berkerudung itu wajib Nga, di dalam berkerudung juga ada poin-poin yang harus dilaksanakan biar kewajiban itu nggak cuma dijalankan sekenanya. Biar kata-katamu nggak kejadian, biar kerudung tetap sakral." Jelasku.
"Aku saja masih belajar Nga." Lanjutku.
"Belajar bagaimana?"
"Ya memakai kerudung yang benar, menjiwai kerudung itu juga dengan benar."
"Syaratnya berkerudung apa saja sih?" Tanyanya, entah untuk yang ke berapa kali.
"Kalau aku pribadi memegang beberapa poin yang harus dilaksanakan supaya pemakaiannya bisa maksimal. Bisa memaknai esensi kaya katamu itu. Pertama nggak transparan atau nerawang, jadi nggak kelihatan rambutnya seberapa. Kan banyak tuh yang kainnya tipis, terus menerawang. Yang kedua menutupi dada sama belakang, kalau ini sudah disebut sebagai ketentuan di Quran sebagai penutup lekuk tubuh juga. Yang ketiga di hadist juga dibilang nggak boleh ada cepolnya, atau punuk unta. Terus yang terakhir nggak ketat. Itu aja sih, simpel."
"Nggak ada ukuran panjang minimal dan maksimal berkerudung gitu?" Tanyanya. Aku tertawa.
"Hahaha enggak kok Nga."

Bunga manggut-manggut.

"Makasih ya, maaf lho kalau menyinggung."
"Nggak kok, aku malah seneng. Nanti kapan-kapan giliran aku yang tanya-tanya ya!" Ujarku.
"Mmm pik, satu lagi nih feed back dari aku."
"Apa?" Aku deg-degan.
"Orang yang berkerudung itu cantik lho! Terlihat berkomitmen dengan agamanya. Jangan dicopot ya pik." Kata Bunga sambil senyum cantik. Aku mendadak tidak jadi melempem, aku kembali menjadi kerupuk  kriuk! hahaha

Akhirnya selesai juga obrolan "agak" ringan ini. Aku menghela nafas.

Muslimah, jangan dilepas ya jilbabnya :) 

talent : apik, ririn, ida, desy, nisa, dan intan


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar